Senin, 12 November 2012

Wonderful Day Being Sensei (Teacher)


Edisi kali ini saya ingin sedikit bercerita tentang pengalaman baru saya sebagai Nihon go no sensei (pasti pada nggak ngerti atinya apa, ayo ngaku…:-v). Nihon go no sensei itu artinya guru bahasa Jepang.
            Saya sudah pernah bilang kan kalau saya ini calon guru? Lebih tepatnya guru bahasa Inggris? (Mengingatkan kembali pada seri Nyot-Nyot dikenyot). Tapi sekarang saya sedang tidak ingin membahas tentang Nyot-Nyot lagi, entahlah rasanya sekarang Nyot-Nyot sudah tidak lagi mampu membuat cacing-cacing di perut saya flash mop lagi L
            As I told you before, I’ll tell you about my experience being Japanese Language teacher. Ceritanya dimulai pada hari sabtu (mengingatkan kembali, hari sabtu kemarin adalah hari pahlawan). Walaupun belum mampu menjadi pahlawan untuk bangsa ini, tapi setidaknya saat ini saya tengah berusaha untuk menjadi “pahlawan tanpa tanda jasa (read: guru).
            Saya adalah mahasiswa prodi pendidikan bahasa Inggris, every body knew that. Tapi pasti pada nggak tau kan kalau jugajuga punya bakat terpendam jadi guru bahasa Jepang? #Congkak tingkat dewa, alay tingkat kecamatan.
            Dan pada hari pahlawan tersebut lah bakat terpendam saya secara malu-malu menampakkan dirinya.
Ceritanya terjadi di kelas Jiyu (ekskul bahasa Jepang di SMA Batik 1 Surakarta), saat itu ternyata senseinya tidak bisa masuk karena sakit.
            Para senior sedikit bingung mau ngapain, mau diisi nonton film, kemarin baru aja nonton film agendanya. Lalu saya mengusulkan pada ketuanya, namanya Reza (Reza lagi, Reza lagi, jadi malah inget sama Nyot-Nyot) untuk mengajarkan sedikit tentang aisatsu (perkenalan).
            Awalnya para senior lah yang menjelaskan beberapa aisatsu, tapi mereka agak sedikit kesulitan menjelaskannya, belum lagi suasana kelasnya tidak terlalu kondusif. Banyak banget siswa yang rame, saya saya waktu itu mendengarkan curhat salah satu siswa tentang penditaannya sebagai seorang “jomblo”. Saya sok-sok ngebantu gitu dari kursi murid, mungkin melihat kalau adapotensi besar dalam diri saya akhirnya salah satu senior (senpai) meminta saya maju dan menjelaskan tentang aisatsu yang saya tau.
            Terkadang saya memang suka show off dan saya menyadari itu, tanpa menolak saya langsung maju kedepan membawa laptop saya. Untungnya juga saya mempunyai file power point pembelajaran bahasa Jepang untuk MLC (Multi Language and Culture),. saya sudah bilang belum  kalau saya juga mantan tentor bahasa Jepang di MLC?. Pasti kalian semakin takjub dengan saya yang ternyata multi talented (entah beneran multi talented atau maksa multi talented) hahaha #plak.
            Jadilah hari itu saya menjadi guru bahasa Jepang, menjelaskan beberapa salam dalam bahasa Jepang, bercerita tentang kebudayaan mereka, mengajari bagaimana berhitung, memperkenalkan diri, menyebutkan umur, dan juga mengajarkan beberapa vocabulary.
Ada kebagaian yang tidak bisa saya ungkapkan dengan kata-kata ketika saya melakukan hal tersebut.Aapalagi ternyata Alumni Jiyu  dari angkatan pertama datang, mereka mengikuti kelas saya dan memanggil saya dengan sebutan “sensei”. Saya sudah pernah bilang kan kalau saya sangat senang dipanggil “sensei”, tapatnya saya lebih senang dan lebih ingin dipanggil “sensei” dari pada “Miss”.
 Dan sudah ada satu murid saya yang memanggil saya “sensei”. Namanya Rifqi Cahya Irawan, tapi saya selalu memanggilnya Cahya walaupun dia tidak terima saya panggil seperti itu. SeandaInya saya orang kaya, pasti saya sudah mendaftarkan Cahya ke MURI sebagai siswa pertama yang memanggil saya “sensei”.
            Walupun sedikit ramai, tapi pelajaran hari itu sangat berkesan untuk saya. Seumur hidup saya, saya tidak akan melupakannya #lagi2 lebeh bedebah.huft… peristiwa itu membuat saya semakin bertekad untuk belajar bahasa Jepang lebih giat lagi, hingga suatu hari nanti saya bukan hanya seorang guru bahasa Inggris tapi juga guru bahasa Jepang.




             
           


Tidak ada komentar:

Posting Komentar