Selasa, 12 Februari 2013

One (Fine) Day


12 Februari 2013 …
            Seperti biasa matahari selalu bersinar cerah, sinar cerahnya seakan mengingatkan manusia untuk selalu menjadi cahaya bagi orang disekitarnya. Bukan  cahaya lilin yang walaupun menyinari dan menghangatkan tapi pada akhirnya dia mati oleh kehangatannya sendiri, tapi cahaya matahari yang selalu menyinari dan memberi kehangatan hingga tiada lagi kehidupan.
            Hari ini kumulai kehidupan kampusku dengan pergi ke perpustakan pusat untuk mencai buku, selain itu aku juga memanfaatkan fasiltas internet perpus untuk mencari beberapa video. Entah mengapa terfikir olehku untuk mencari video tentang materi lain, bukan materi yang telah aku siapkan untuk penelitian.
            Entah takdir Tuhan atau suara hati yang begitu kuat, ternyata aku harus mengganti materi. Sedih dan kecewa pasti aku rasakan, rasanya seperti seorang musafir yang harus berbalik arah setelah dia berjalan jauh. Tapi semua ada prosesnya, dan apapun itu ini adalah bagian dari takdir Tuhan yang aku jalani dan proses ini harus aku lewati untuk mendewasakanku.
            Tuhan tidak pernah memberikan masalah tanpa jalan keluarnya, seperti paket lengkap Tuhan selalu memberi masalah dan jalan keluarnya. Paket lengkap itu tersemayam dalam temanku “Laily”. Sebelum berangkat ke kampus aku dan Laily membuat janji untuk jalan-jalan sore dan akhirnya kami melakukan apa yang telah kami janjikan.
            Seperti cerita dalam film, kami ingin membuat “moment” dari setiap perjalanan yang kami lewati. Bahkan Laily menuliskan alur perjalan kami. Kami juga melakukan hal yang sedikit konyol, untuk memutuskan pergi menggunakan motor siapa saja, kami suit dan siapa yang menang lima kali terlebih dulu maka motornya tidak dipakai.
            Kami ingin membuat moment dari setiap perjalanan, maka dari itu aku memutuskan untuk membawa kamera tapi sayangnya diantara kami berdua tidak ada yang mempunyai kepercayaan diri yang tinggi untuk berfoto ditempat umum. Perjalanan pertama kami pergin kesebuah toko alat tulis membeli buku untuk menuliskan setiap moment yang kami buat. Setelah itu membeli air mineral untuk bekal perjalanan dan juga untuk ujian skripsi Laily besok. Perjalanan dilanjutkan untuk makan bakso bakar dan batagor disuatu area dekat kampus. Dan yang terakhir kami pergi ke sebuah toko buku, toko buku adalah tempat favoritku karena di tempat ini hasratku untuk menjadi seorang penulis yang kadang tenggelam selalu menggebu kembali.
            Walaupun pada akhirnya tidak membeli buku, tapi selalu ada sesuatu yang aku dapat dari toko buku. Banyak kisah inspiratif yang membuatku mampu untuk berkata pada diriku sendiri bahwa “segala sesuatu itu butuh perjuangan dan semakin besar perjuangannya semakin indah hasil yang kita dapat.”
            Tiada suatu yang besar tanpa perjuangan yang hebat (Man Jada Wajadda)”
            Perjuangan hebat yang aku baca dari kisah Dahlan Iskan,  Jokowi dan beberapa tokoh Yahudi seakan menjadi cambuk untukku untuk tidak menyerah.
            Aku juga membaca buku tentang harapan, buku itu ditulis oleh salah seorang artis yang cukup aku kagumi. Pada bagian awal buku ada sebuah puisi yang cukup indah menurutku. Inilah puisi tersebut …
Setiap manusia memiliki kisah …
Kisah tentang hasrat dan keinginan dalam hidup …
Kisah tentang kesungguhan hati menggapai mimpi …
Kisah tentang awal dan akhir kehidupan …
Setiap manusia memiliki harapan …
Harapan yang dibalut dalam sebuah hasrat …
Harapan yang diperjuangkan untuk mewujudkan mimpi …
Harapan yang dipanjatkan dalam doa sebagai petunjuk dan penyejuk hati
Begitulah Tuhan mengajarkan kita …
Duka, kesedihan, putus asa, kehampaan, kegalauan, keterbatasan, semangat hidup, kebahagiaan , dan senyuman terbalut dalam alunan waktu yang bercerita tentang kisah hidup mereka
Penuh makna …
Yang dipersembahkan untuk semua jiwa yang merindukan harapan
Untukmu insan luar biasa …
Dari hatiku kepada hatimu …
~Andi Arsyil Rahman Putra~
            Hari aku belajar betapa selalu ada harapan dari setiap impian. Harusnya aku selalu menyadarinya karena aku telah menulisakan kata “dream, hope n faith” pada layar ponselku. Selalu ada hal yang bisa kita pelajari dari semua yang telah terjadi dan selalu ada “the power of dream” selama kita mempercayai mimpi itu.
“Melangkah lagi jangan berhenti kau kan mengerti makna terbaik dari semua yang tlah terjadi. Melangkah lagi jangan berhenti kau kan sadari rahasia indah yang tersimpan dihari nanti (Melangkah Lagi)”
Masih saja ada pelajaran yang bisa aku ambil hari ini. Sepanjang perjalanan pulang aku dan Laily bertukar cerita tentang kehidupan kampus kami. Laily menceritakan tentang dosennya yang walaupun seorang dokter yang sangat sibuk tapi masih selalu ramah memberinya bimbingan. Bahkan kadang Laily merasa tidak enak karena dosennya memberi bimbingan pada saat jeda operasi atau membuat pasien-pasienya mengantri karena ada mahasiswa yang bimbingan, padahal tentu “kesehatan adalah nomer satu” apalagi bagi orang yang sedang sakit. Dan lebih dari itu, dosennya juga sangat ramah dan bersahaja.
Apa yang dapat ambil dari dokter itu adalah tetap konsisten dengan tugas yang sudah menjadi tanggung jawab kita dan jangan pernah sombong dengan apa yang kita miliki se-prestige apapun itu. Jadi kalimat di surat kadonya mbak Tiwiq:
seharusnya manusia tidah boleh sombong. Dia lahir dari air yang hina. Diakhir hidupnya dia akan menjadi daging yang membusuk dan diantara keduanya, selama hidup manusia membawa kotoran dan najis kemana-mana (Ali bin Abi Thalib ra)”.

           

Senin, 12 November 2012

Wonderful Day Being Sensei (Teacher)


Edisi kali ini saya ingin sedikit bercerita tentang pengalaman baru saya sebagai Nihon go no sensei (pasti pada nggak ngerti atinya apa, ayo ngaku…:-v). Nihon go no sensei itu artinya guru bahasa Jepang.
            Saya sudah pernah bilang kan kalau saya ini calon guru? Lebih tepatnya guru bahasa Inggris? (Mengingatkan kembali pada seri Nyot-Nyot dikenyot). Tapi sekarang saya sedang tidak ingin membahas tentang Nyot-Nyot lagi, entahlah rasanya sekarang Nyot-Nyot sudah tidak lagi mampu membuat cacing-cacing di perut saya flash mop lagi L
            As I told you before, I’ll tell you about my experience being Japanese Language teacher. Ceritanya dimulai pada hari sabtu (mengingatkan kembali, hari sabtu kemarin adalah hari pahlawan). Walaupun belum mampu menjadi pahlawan untuk bangsa ini, tapi setidaknya saat ini saya tengah berusaha untuk menjadi “pahlawan tanpa tanda jasa (read: guru).
            Saya adalah mahasiswa prodi pendidikan bahasa Inggris, every body knew that. Tapi pasti pada nggak tau kan kalau jugajuga punya bakat terpendam jadi guru bahasa Jepang? #Congkak tingkat dewa, alay tingkat kecamatan.
            Dan pada hari pahlawan tersebut lah bakat terpendam saya secara malu-malu menampakkan dirinya.
Ceritanya terjadi di kelas Jiyu (ekskul bahasa Jepang di SMA Batik 1 Surakarta), saat itu ternyata senseinya tidak bisa masuk karena sakit.
            Para senior sedikit bingung mau ngapain, mau diisi nonton film, kemarin baru aja nonton film agendanya. Lalu saya mengusulkan pada ketuanya, namanya Reza (Reza lagi, Reza lagi, jadi malah inget sama Nyot-Nyot) untuk mengajarkan sedikit tentang aisatsu (perkenalan).
            Awalnya para senior lah yang menjelaskan beberapa aisatsu, tapi mereka agak sedikit kesulitan menjelaskannya, belum lagi suasana kelasnya tidak terlalu kondusif. Banyak banget siswa yang rame, saya saya waktu itu mendengarkan curhat salah satu siswa tentang penditaannya sebagai seorang “jomblo”. Saya sok-sok ngebantu gitu dari kursi murid, mungkin melihat kalau adapotensi besar dalam diri saya akhirnya salah satu senior (senpai) meminta saya maju dan menjelaskan tentang aisatsu yang saya tau.
            Terkadang saya memang suka show off dan saya menyadari itu, tanpa menolak saya langsung maju kedepan membawa laptop saya. Untungnya juga saya mempunyai file power point pembelajaran bahasa Jepang untuk MLC (Multi Language and Culture),. saya sudah bilang belum  kalau saya juga mantan tentor bahasa Jepang di MLC?. Pasti kalian semakin takjub dengan saya yang ternyata multi talented (entah beneran multi talented atau maksa multi talented) hahaha #plak.
            Jadilah hari itu saya menjadi guru bahasa Jepang, menjelaskan beberapa salam dalam bahasa Jepang, bercerita tentang kebudayaan mereka, mengajari bagaimana berhitung, memperkenalkan diri, menyebutkan umur, dan juga mengajarkan beberapa vocabulary.
Ada kebagaian yang tidak bisa saya ungkapkan dengan kata-kata ketika saya melakukan hal tersebut.Aapalagi ternyata Alumni Jiyu  dari angkatan pertama datang, mereka mengikuti kelas saya dan memanggil saya dengan sebutan “sensei”. Saya sudah pernah bilang kan kalau saya sangat senang dipanggil “sensei”, tapatnya saya lebih senang dan lebih ingin dipanggil “sensei” dari pada “Miss”.
 Dan sudah ada satu murid saya yang memanggil saya “sensei”. Namanya Rifqi Cahya Irawan, tapi saya selalu memanggilnya Cahya walaupun dia tidak terima saya panggil seperti itu. SeandaInya saya orang kaya, pasti saya sudah mendaftarkan Cahya ke MURI sebagai siswa pertama yang memanggil saya “sensei”.
            Walupun sedikit ramai, tapi pelajaran hari itu sangat berkesan untuk saya. Seumur hidup saya, saya tidak akan melupakannya #lagi2 lebeh bedebah.huft… peristiwa itu membuat saya semakin bertekad untuk belajar bahasa Jepang lebih giat lagi, hingga suatu hari nanti saya bukan hanya seorang guru bahasa Inggris tapi juga guru bahasa Jepang.




             
           


Kamis, 08 November 2012

Nyot-Nyot and His Brother



What's on your mind when I say Nyot-Nyot? bagi yang punya hobi nonton iklan di tipi (hobi aneh yang ternyata merupakan hobi saya sendiri :-~), pasti pernah lihat iklan sejenis snack anak-anak, dimana iklan tersebut memamerkan aksi flash mob beberapa anak kecil sedang asyiknya menikmati snack tersebut. Saking asyiknya, tiba-tiba tubuh anak-anak tersebut secara bergantian (dan urut tentunya) meninggi beberapa (entahlah kalau tidak centi meter mungkin meter) dan kepala mereka (tentu saja) secara bergantian pula merubah (lebih tepatnya melonjong) #Let me remain you, it’s such like openingnya warkop DKI waktu tiba-tiba dari langit jatuh 3 pri dewasa (Dono, Kasino, Indro) dan adegan selanjutnya adalah bentuk tubuh mereka yang berubah menjadi konyol.
That’s all for remaining you. Saya tidak akan  memaksa Anda untuk mengingatnya lebih jauh. Inti dari tulisan saya ini adalah saya ingin menceritakan tentang “murid(murid-murid)” #jangan tercengang kalau saya menagatakan “murid saya” because I’m teacher now. #Huray keliling api unggun sambil bilang wow :-P.
As I told you before, I’m teacher now. Teacher! Tolong digari bawahi kata itu (sedikit lebay). Bagi yang belum tau, saya kasih tau kalau sekarang saya sedang menjalani praktek mengakjar atau di fakultas saya beken dengan istilah PPL. Takdir Tuhan menempatkan saya menjalani PPL di SMA Batik 1 Surakarta. Sebuah sekolah swasta yang cukup favorit di kota Solo.
Ada yang lupa, saya adalah seorang seorang guru bahasa Inggris (di sekolah tersebut, tentunya) dan semua siswa saya memanggil saya dengan panggilan “Miss”. Entah kenapa dalam lubuk hati terkecil saya, saya tidak terlalu suka dipanggil “miss” Ciyus saya lebih suka dan sangat berharap kalau saya dipanggil “sensei”(guru dalam bahasa Jepang).
Kembali ke hal yang akan menjadi poin dari cerita saya. Ini cerita tentang Nyot-Nyot, sebuah kisah nyata dan bukan fiktif belaka (dan yang pasti tidak ada kisah ketukar-tukar seperti kebanyakan sinetron saat ini).
Nyot-Nyot adalah siswa kelas X3 yang sebenarnya mempunya nama yang sangat amazing yaitu Reza (jangan melemparkan sandal anda kedepan PC kalau anda merasa nama itu tidak amazing).
Once upon a time, tepatnya ketika saya dan teman saya sedang bertugas piket, tepatnya lagi kamis, dan tepatnya lagi saya tidak ingat tanggalnya :-D. seperti biasa, kami bertugas mengambil absen siswa yang terlambat atau yang tidak masuk, dengan cara masuk ke masing-masing kelas, dari kelas X sampai XII. Unfortunately saya kebagian jatah ngambil absen kelas X, setelah absen itu terkumpul teman satu perjuangan saya (beib Lita dan beib Jona) meyetorkan absen tersebut ke bagian kesiswaan (tepatnya lantai 2).
Pada saat mengumpulkan absen tersebut itulah adegan flash mob tersebut terjadi. Seorang siswa kelas X3 yang menampilanya cukup menarik (menarik untuk anak SMP, karena ciyus wajahnya masih cocok baget jadi anak SMP). Teman seperjuangan saya secara tidak sengaja melihat kebawah yang ternyata tepat sekali kea rah X3. Beberapa detik atau mungkin menit mereka takjub dengan apa yang mereka lihat, seorang anak kecil sedang melakukan aksi flash mob Nyo-Nyot dikenyot.
Teman saya kontan langsung speechless dan selanjutnya tertawa terabahak-bahak. Menyadari kalau sedang ada dua orang “miss” cantik mengintainya, siswa tersebut langsung ngacir bersama temannya yang hanya menjadi penonton (namanya Isnain).
Eh..ada missnya” Teriaknya diikuti langkah seribu menuju menuju dalam kelas diikuti Isnain yang masih mencari-cari keradaan miss Jona dan miss Lita.
Aksi frontal tersebut mereka ceritakan kepada saya beberapa hari kemudian. Dengan hanya mendengarkan cerita tersebut dari beib(miss) Lita saya sudah tertawa terpingkal-pingkal, beib Lita begitu maksimal dalam menyampaikan ceritanya. Mungkin sama maksimalnya dengan aksi flash mob Nyot-Nyot, saya pun menjadi begitu penasaran dengan sosok munggil bernama Nyot-Nyot Itu.
Ternyata rasa penasaran saya diketahui Tuhan, pada saat hendak memberikan evaluasi di kelas X3 tiba-tiba saya teringat tentang Nyot-Nyot. Saya meminta beib Lita untuk menunjukan siapa jati diri Nyot-Nyot yang sebenarnya.
What’s on earth?. Ternyata Nyot-Nyot adalah sosok mungil yang duduk di barisan kedua meja guru. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah, ternyata wajahnya masih sangat imut. Saya saya sudah bilang belum kalau dia masih cocok jadi anak SMP?
Seketika itu juga saya langsung tertawa melihat wajahnya dan imajinasi saya langsung ngacir ke adegan flash mob tersebut.  Saya tidak bisa menyembunyikan tawa saya, perut saya langsung menjadi sangat geli.# mungkin cacing-cacing di perut saya saat itu juga sedang flash mop?, plakk :-P.
Seperti mempunyai ikatan batin, Nyot-Nyot menyadari kalau ada yang aneh dalam diri saya. Berulang kali dia bertanya “Ada apa tho miss. Kok ketawa terus kalau ngelihat saya?”.
Tidak ingin membuatnya kecewa apalagi malu, saya hanya menjawab “Nggak apa-apa.” tapi ekspresi dan tawa saya mengatakan lebih dari itu. Dan sialnya dia menyadari hal itu, sampai-sampai dia memegangi wajahnya, mungkin dia takut kalau ada sesuatu di wajahnya dan membuat saya tertawa terus. Akhirnya dia ijin ke kamar mandi, saya yakin adalah “modus” karena dia ingin bercermin dan melihat apakah ada yang aneh di wajahnya.
Dan begitulah hari-hari berlalu, begitu melihat baby facenya, saya lagsung tertawa karena cacing2 di perut saya tiba-tiba melakukan flash mob Nyot-Nyot dikenyot. Dan berhari-hari pulalah dia semakin penasaran dengan tingkah laku saya, tapi saya tidak pernah jujur ketika dintanya “kenapa tho miss kalau ngelihat aku kok ketawa.”
Hari yang berbeda suasana yang sama…
            Beberapa hari kemudian saya masuk lagi ke kelas X3, tepatnya untuk membagikan hasil ulangan harian. Saat itu Nyo-Nyot duduk bersama seorang siswa yang bernama Raka (salah beib ada yang ngefans baget sama Raka, yang bisa nebak dapat piring cantik).
            Betapa gelinya saya ketika pada saat pelajaran tersebut Nyot-Nyot MENGATAKAN bahwa Raka adalah adiknya. Saya pun kontan bertanya “Kok adiknya nilainya bagus, tapi kamu Cuma dapet 50?”
            “Kan saya kasih ke dia miss, sebenernya saya juga dimarahi sama mama.” Dia mengatakannya dengan wajahnya yang innocent.
            Tawa saya untuk kesekian kalinya pecah. Sempat ada pikiran aneh muncul di kepala saya, bagaimana seorang Reza yang sangat Nyot-Nyot mempunyai seorang adik yang pendiam, ganteng, dan juga pinter. Seratus delapan puluh derajat berbeda darinya.
            Tidak hanya itu kisah fiktif yang Nyot-Nyot sampaikan pada saya, dia juga mengatakan kalau mereka selalu pulang bersama dan tidur disatu kamar yang sama.
#To Be continued someday…