Edisi kali ini saya ingin sedikit bercerita tentang
pengalaman baru saya sebagai Nihon go no sensei (pasti pada nggak ngerti atinya
apa, ayo ngaku…:-v). Nihon go no sensei itu artinya guru bahasa Jepang.
Saya sudah
pernah bilang kan kalau saya ini calon guru? Lebih tepatnya guru bahasa
Inggris? (Mengingatkan kembali pada seri Nyot-Nyot dikenyot). Tapi sekarang
saya sedang tidak ingin membahas tentang Nyot-Nyot lagi, entahlah rasanya
sekarang Nyot-Nyot sudah tidak lagi mampu membuat cacing-cacing di perut saya flash mop lagi L
As I told
you before, I’ll tell you about my experience being Japanese Language teacher.
Ceritanya dimulai pada hari sabtu (mengingatkan kembali, hari sabtu kemarin
adalah hari pahlawan). Walaupun belum mampu menjadi pahlawan untuk bangsa ini,
tapi setidaknya saat ini saya tengah berusaha untuk menjadi “pahlawan tanpa
tanda jasa (read: guru).
Saya
adalah mahasiswa prodi pendidikan bahasa Inggris, every body knew that. Tapi
pasti pada nggak tau kan kalau jugajuga punya bakat terpendam jadi guru bahasa
Jepang? #Congkak tingkat dewa, alay tingkat kecamatan.
Dan pada
hari pahlawan tersebut lah bakat terpendam saya secara malu-malu menampakkan
dirinya.
Ceritanya terjadi di kelas
Jiyu (ekskul bahasa Jepang di SMA Batik 1 Surakarta), saat itu ternyata
senseinya tidak bisa masuk karena sakit.
Para
senior sedikit bingung mau ngapain, mau diisi nonton film, kemarin baru aja
nonton film agendanya. Lalu saya mengusulkan pada ketuanya, namanya Reza (Reza lagi,
Reza lagi, jadi malah inget sama Nyot-Nyot) untuk mengajarkan sedikit tentang
aisatsu (perkenalan).
Awalnya
para senior lah yang menjelaskan beberapa aisatsu, tapi mereka agak sedikit
kesulitan menjelaskannya, belum lagi suasana kelasnya tidak terlalu kondusif.
Banyak banget siswa yang rame, saya saya waktu itu mendengarkan curhat salah
satu siswa tentang penditaannya sebagai seorang “jomblo”. Saya sok-sok ngebantu
gitu dari kursi murid, mungkin melihat kalau adapotensi besar dalam diri saya
akhirnya salah satu senior (senpai) meminta saya maju dan menjelaskan tentang
aisatsu yang saya tau.
Terkadang
saya memang suka show off dan saya menyadari itu, tanpa menolak saya langsung
maju kedepan membawa laptop saya. Untungnya juga saya mempunyai file power
point pembelajaran bahasa Jepang untuk MLC (Multi Language and Culture),. saya
sudah bilang belum kalau saya juga
mantan tentor bahasa Jepang di MLC?. Pasti kalian semakin takjub dengan saya yang
ternyata multi talented (entah beneran multi talented atau maksa multi
talented) hahaha #plak.
Jadilah
hari itu saya menjadi guru bahasa Jepang, menjelaskan beberapa salam dalam
bahasa Jepang, bercerita tentang kebudayaan mereka, mengajari bagaimana
berhitung, memperkenalkan diri, menyebutkan umur, dan juga mengajarkan beberapa
vocabulary.
Ada kebagaian yang tidak bisa
saya ungkapkan dengan kata-kata ketika saya melakukan hal tersebut.Aapalagi
ternyata Alumni Jiyu dari angkatan
pertama datang, mereka mengikuti kelas saya dan memanggil saya dengan sebutan
“sensei”. Saya sudah pernah bilang kan kalau saya sangat senang dipanggil
“sensei”, tapatnya saya lebih senang dan lebih ingin dipanggil “sensei” dari
pada “Miss”.
Dan sudah ada satu murid saya yang memanggil
saya “sensei”. Namanya Rifqi Cahya Irawan, tapi saya selalu memanggilnya Cahya
walaupun dia tidak terima saya panggil seperti itu. SeandaInya saya orang kaya,
pasti saya sudah mendaftarkan Cahya ke MURI sebagai siswa pertama yang
memanggil saya “sensei”.
Walupun
sedikit ramai, tapi pelajaran hari itu sangat berkesan untuk saya. Seumur hidup
saya, saya tidak akan melupakannya #lagi2 lebeh bedebah.huft… peristiwa itu
membuat saya semakin bertekad untuk belajar bahasa Jepang lebih giat lagi,
hingga suatu hari nanti saya bukan hanya seorang guru bahasa Inggris tapi juga
guru bahasa Jepang.