It’s me
“Every one is unique” I believe in this quotation. Setiap orang itu unik, begitupun aku walaupu kadang aku ngerasa aku agak aneh. Mungkin setiap orang tidak hanya unik tapi juga aneh, mereka itu seperti diagram batang yang terdiri dari beberapa persen sifat-sifat yang berbeda dan mungkin bertentangan. Tapi mencoba mengerti dan memahami orang lain itu ternyata menyenangkan tidak sulit, tapi tentu lebih mudah untuk memahami diri kita sendri.
Back to my self, selama ini aku merasa mengalami fase yang menurutku sangat unik. Aku mulai mmahami diriku saat TK, saat TK kehidupanku mungkin agak berbeda dengan orang lain. Saat itu aku merasa kalau aku sudah sedikit teraniaya, setiap kali pulang sekolah selalu dibohongi teman temanku, aku disuruh lewat suatu jalan dan disuruh berjalan paling depan. Ketika aku sudah jauh berjalan ternyata mereka malah lari lewat jalan lain. Setiap hari selalu pulang sekolah dengan menangis, mungkin karena itu juga aku jadi gampang banget nangis. Belum lagi kalau ada teman yang nasinya jatuh ketanah atau teman yang jatuh saat berjalan selalu saja aku yang dituduh mengajaknya berlari atau menjatuhkan makanannya. Bahkan waktu kecil aku sudah mendapat fitnah dari tetangga yang kurang suka dengan keluargaku. Entah apa salah kami pada keluarga tersebut, mereka selalu memusuhi kami sekeluarga apalagi setelah Ayah dan Ibu lumayan berhasil mengadu nasib di tanah bumbu, Kalimantan selatan. Tapi Tuhan itu adil, bukan bermaksud untuk nyukurin mereka, tapi percaya bahwa ini adalah takdir Tuhan dan buah dari setiap perbuatan manusia. Ibu di keluarga tersebut sekarang sedang sakit diabetes militus yang kondisinya lumayan parah, sang anak yang seusia dan selalu sekelas denganku MBA dan sekarang sudah mempunyai anak yang berusia 3tahun.
Masa kecil yang cukup tidak menggembirakan L
Masa Sekolah tidak jauh berbeda dengan masa TK, seperti selalu diwarnai persaingan dengan anak tetangga tersebut. Walaupun aku pernah sekali kalah, dia dapat ranking 1 sementara aku ranking 3. Tapi Tuhan sayang banget sama aku, aku lulus dengan nilai terbaik dan saat SMP aku masuk kelas A, padahal dikelas tersebut hanya diambil 26 siswa dan dia ranking ke-28.
Pada saat SMA aku kembali satu sekolah sama dia, bahkan kita selalu dikelas yang sama tapi pada saat kelas XI dia tidak melanjutkan sekolah karena hamil. Tidak tahu kenapa tapi setelah itu rasanya hidupku seperti berubah 180 derajat, aku yang dulu pemalu dan pendiam mulai berubah menjadi pribadi yang sangat riang dan menurutku cukup lucu. Aku mulai menata masa depanku disini. Dan walaupun tidak punya banyak prestasi tapi aku aku merasa hidupku dimulai dari sini, olimpiade fisika, rohis, tenis, dan basket adalah beberapa kegiatan yang aku ikuti selama SMA. Thanks to all my friends in Sangra: Anik, Ina, Sister, Ardian, Relly, Ira, dan semuanya may Alloh bless u all.
Memasuki pendidikan di Universitas, aku kembali ke siklus awal, pribadi yang pemalu dan bisa dibilang minder. Untunglah pada saat itu Tuhan mengirimkan malaikat tak bersayapnya. Hingga dimana akhirnya aku berada disuatu titik yang sangat tinggi dan untuk kembali lagi titik yang rendah begitu sulit. Menjadi pribadi yang ceria, suka bercanda dan tertawa, dan bahkan ada yang mengatakan aku berlebihan, dan tentunua kalian tahu apa bahasa gaulnya berlebiha atau over. Walaupun sepertinya aku tidak menghiruakna kata-kata tersebut tapi tentu yang tahu apa yang ada didalam hati dan perasaanku adalah aku.
Terkadang apa yang kita lihat pada orang lain belum tentu menggambarkan apa yang ia rasakan, begitupun yang terjadi padaku. Tapi sudahlah aku bukan orang yang pendendam, tidak peduli apa yang mereka katakana yang penting aku membuat mereka gembira. Dan kalaupun aku merasa mereka sedikit banyak menyakitiku, tapi aku sudah memaafkan mereka. Walaupun mungkin untuk melupakan belum, karena memaafkan itu lebih mudah dari pada melupakan dan itu bukan berarti dendam. Seseorang telah berkata padaku, ketika kamu telah memaafkan seseorang tapi belum bisa melupakan kesalahannya, tapi ketika mampu mampu melihat wajah bahkan matanya dengan perasaan diasa saja dan tidak ada amarah berarti kamu tidak menyimpan dendam untuk orang tersebut. Masalahnya hanya waktu, biarkan waktu yang akan menghapus ingatan tersebut.
Pada fase ini pernah berfikir bahkan berusa untuk berubah, berubah menjadi seperti orang lain yang sangat manis, tapi ternyata itu sangat sulit. Dulu aku berpandangan bahwa untuk menjadi diri seniri itu terkadang lebih sulit dari pada menjadi orang lain, ternyata pikiran seperti salah, menjadi orang lainlah yang sangat sulit karena memahami dengan diri kita tapi tentu kita tidak memahami orang lain sebaik kita memahami diri kita sendiri.
Satu hal yang aku pahami dari fase-fase yang aku alami adalah apapun yang terjadi kita tidak perlu menjadi orang lain. Ketika kamu menjadi manis dengan menjadi orang lain, itu bukan kejujuran, itu pura-pura, dan ketika pula ada orang yang merindukan kamu ketika kamu menjadi orang lain, yang mereka rindukan adalah orang lain tersebut bukan kamu. Dan apapun yang terjadi jalanilah sebagai bagian dari takdir Tuhan, dan bukankah Tuhan adil dan tahu yang terbaik bagi kita, dan bukankah pula rencana Tuhan itu selalu indah. Kalau hari ini kamu menangis bukan berarti besok atau lusa kamu juga akan menangis. Dan kalau boleh memilih aku ingin menjalani hidupku ini seperti minum obat, awalnya memang pahit atau bahkan mungkin kita akan muntah, tapi setelah itu kita menjadi sehat dan merasakan manisnya hidup ini.
